Saturday, 27 April 2013

Taat Kepada Suami




Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk RasulillahShallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Al-Qur'an dan sunnah menerangkan, suami memiliki hak yang sangat besar atas istrinya. Istri harus taat kepada suaminya, melayani dengan baik, dan mendahulukan ketaatan kepadanya daripada kepada orang tua dan saudara-saudara kandungnya sendiri. Bahkan suami menjadi surga dan nerakanya.
Allah Ta'ala berfirman,
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِم
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (QS. Al-Nisa': 34)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ
"Tidak boleh (haram) bagi wanita untuk berpuasa sementara suaminya ada di sisinya kecuali dengan izinnya. Istri juga tidak boleh memasukkan orang ke dalam rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Dan harta yang ia nafkahkan bukan dengan perintahnya, maka setengah pahalanya diberikan untuk suaminya." (HR. Al-Bukhari)
Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Abu HurairahRadhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Apabila wanita menunaikan shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya; maka disampaikan kepadanya: masuklah surga dari pintu mana saja yang kamu mau." (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jami', no. 660)
Ibnu Majah juga meriwayatkan hadits yang dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: Saat Mu'adz tiba dari Syam, ia bersujud kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Beliau berkata: "Apa ini wahai Mu'adz?"
Mu'adz menjawab, "Aku telah datang ke Syam, aku temui mereka bersujud kepada para pemimpin dan penguasa mereka. Lalu aku berniat dalam hatiku melakukan itu kepada Anda."
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Jangan lakukan itu, kalau saja aku (boleh) memerintahkan seseorang bersujud kepada selain Allah, pastilah aku perintahkan wanita bersujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah seorang istri disebut telah menunaikan hak Rabb-nya sehingga ia menunaikan hak suaminya. Kalau saja suami memintanya untuk melayaninya sementara ia berada di atas pelana unta, maka hal itu tidak boleh menghalanginya." (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah)
Maknanya: hadits tersebut memerintahkan kepada para istri untuk mentaati dan siap melayani suaminya. Tidak boleh ia menolak ajakan suami walau ia sudah siap melakukan perjalanan, yakni sudah berada di atas pelana untanya, maka hal ini lebih ditekankan saat ia berada dalam keadaan selain itu.
Diriwayatkan dari al-Husain bin Mihshan, bahwa bibinya pernah datang kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallamkarena satu keperluan. Saat sudah selesai, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertanya kepadanya, "apakah kamu punya suami?"
Ia menjawab, "Ya."
Beliau bertanya lagi, "Bagaimana sikapmu terhadapnya?"
Ia menjawab, "Aku tidak kurangi hak-nya kecuali apa yang aku tidak mampu."
Beliau bersabda, "Perhatikan sikapmu terhadapnya, karena ia surga dan nerakamu." (HR. Ahmad dan Al-Hakim, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al;Targhib wa al-Tarhib, no. 1933)
Maksudnya, suamimu itu adalah sebab kamu bisa masuk surga jika kamu tunaikan hak-nya. Dan suamimu itu menjadi sebab kamu masuk neraka jika kamu lalaikan hal itu.
. . . suamimu itu adalah sebab kamu bisa masuk surga jika kamu tunaikan hak-nya. Dan suamimu itu menjadi sebab kamu masuk neraka jika kamu lalaikan hal itu. . .
Taat Suami VS Taat Orang Tua
Sering terjadi kasus, orang tua wanita –baik bapak atau ibunya- menuntut kepadanya untuk melakukan sesuatu yang berseberangan dengan tuntutan suami. Hal ini sering menjadi dilema dan masalah berat bagi sebagian wanita. Pada saat seperti ini, mana yang harus lebih didahulukan oleh wanita muslimah?
Apabila ketaatakan kepada suami berseberangan dengan ketaatan kepada orang tua, maka bagi seorang wanita (istri) muslimah wajib mendahulukan ketaatan kepada suaminya. Imam Ahmad rahimahullah berkata tentang wanita yang memiliki suami dan seorang ibu yang sedang sakit: Ketaatan kepada suaminya lebih wajib atas dirinya daripada mengurusi ibunya, kecuali jika suaminya mengizinkannya." (Syarh Muntaha al-Iradat: 3/47)
Di dalam kitab al-Inshaf (8/362), "Seorang wanita tidak boleh mentaati kedua orang tuanya untuk berpisah dengan suaminya, tidak pula mengunjunginya dan semisalnya. Bahkan ketaatan kepada suaminya lebih wajib."
. . . Apabila ketaatakan kepada suami berseberangan dengan ketaatan kepada orang tua, maka bagi seorang wanita (istri) muslimah wajib mendahulukan ketaatan kepada suaminya. . .
Terdapat satu hadits dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam –menurut sebagian ulama statusnya hasan- yang meguatkan hal ini, dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Siapakah wanita paling besar haknya atas wanita?" Beliau menjawab: "Suaminya."
Aku bertanya lagi, "Lalu siapa manusia yang paling besar haknya atas laki-laki?" Beliau menjawab, "ibunya." (HR. al-Hakim, namun hadits ini didhaifkan oleh Al-Albani dalam Dhaif al-Targhib wa al-Tarhib, no. 1212, beliau mengingkari penghasanan hadits tersebut oleh al-Mundziri)
Dengan demikian maka, bagi wanita haruslah lebih mendahulukan ketaatan kepada suami daripada ketaatan kepada kedua orang tuanya. Namun jika keduanya bisa ditunaikan secara sempurna dengan izin suaminya, maka itu yang lebih baik.

Friday, 26 April 2013

Nasehat Bada Jumatan

Ummu Muthia: sisi lain seorang wanita pertama yang akan masuk syurga

Fatimah Az-Zahra, walaupun putri kesayangan Rasulullah SAW, namun tidak pernah manja. Pantang baginya meminta sesuatu kepada sang ayah. Hidupnya sederhana, dan taat beribadah.

Sebagai seorang istri, serta ibu dari Hasan dan Husein, Fatimah selalu sabar dan ikhlas. Tugas kesehariannya dijalani sendiri, seperti menggiling gandum sampai tangannya lecet.

Tidak ragu mengangkut air untuk kebutuhan keluarga hingga alasnya berbekas di dadanya. Rumah Fatimah selalu bersih, dan rapi berkat keuletannya mengurus perabotan di rumah.


Suatu hari Fatimah menanyakan kepada ayahnya, siapakah perempuan yang pertama kali masuk surga? Rasulullah menjawab, "Wahai Fatimah, jika engkau ingin mengetahui perempuan pertama masuk surga, selain Ummul Mukminin, dia adalah Ummu Mutiah."

"Siapakah Mutiah itu, ya Rasulullah? Di manakah dia tinggal?" tanya Fatimah penasaran. Karena tidak ada yang mengenal Mutiah. Rasulullah menjelaskan, Ummu Mutiah yang dimaksud adalah perempuan yang tinggal di pinggiran Kota Madinah.

Jawaban itu membuat Fatimah tercengang. Ternyata bukan dirinya perempuan yang masuk surga pertama kali. Padahal Fatimah sebagai putri Rasulullah, dan telah menjalankan ibadah, amalan, serta bermuamalah dengan baik.

Untuk memenuhi rasa penasaran, Fatimah berkunjung ke rumah Mutiah di pinggiran Madinah. Dia ingin menyelidiki amalan dan ibadah apa yang dilakukan Mutiah hingga Rasulullah menyebut namanya sebagai perempuan terhormat.

Keesokan harinya, Fatimah pamit kepada suaminya mengunjungi kediaman Mutiah. Dia mengajak putranya Hasan. Setelah mengetuk pintu, memberi salam, terdengar suara dari dalam rumah. "Siapa di luar?" tanya Mutiah.

Fatimah menjawab, "Saya Fatimah, putri Rasulullah."

Mutiah belum mau membuka pintu, malah balik bertanya, "Ada keperluan apa?"

Fatimah menjawab, ingin bersilaturahim saja. Dari dalam rumah Mutiah kembali bertanya, "Anda seorang diri atau bersama yang lain?"
"Saya bersama Hasan, putra saya," jawab Fatimah dengan sabar.

"Maaf, Fatimah," kata Mutiah, "Saya belum mendapat izin dari suami untuk menerima tamu laki-laki."

"Tetapi Hasan anak-anak," balas Fatimah.

"Walaupun anak-anak, dia lelaki juga. Besok saja kembali lagi setelah saya mendapat izin dari suami saya," timpal Mutiah.

Fatimah tidak bisa menolak. Setelah mengucapkan salam ia bersama Hasan meninggalkan kediaman Mutiah.


Keesokan harinya, Fatimah kembali mengunjungi rumah Ummu Mutiah. Kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, Husein pun ingin ikut ibunya. Tiba dikediaman Ummu Mutiah, terjadi lagi dialog dari balik pintu.

Menurut Mutiah, suaminya telah mengizinkan Hasan masuk ke rumahnya. Sebelum pintu dibuka, Fatimah mengatakan, kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, melainkan bertiga bersama Husein. Mendengar jawaban Fatimah, Mutiah urung membukakan pintu.

Mutiah menanyakan, apakah Husein seorang perempuan? Fatimah meyakinkan Mutiah bahwa, Husein cucu Rasulullah, saudaranya Hasan. "Dia seorang anak laki-laki."

"Saya belum meminta izin kepada suami kalau Husein mau berkunjung ke rumah ini," kata Mutiah.

"Tapi Husein masih anak-anak," tegas Fatimah.

"Walaupun anak-anak, Husein laki-laki juga. Maafkan Fatimah, bagaimana kalau kembali besok, setelah saya meminta izin kepada suami," kata Mutiah.

Fatimah tidak bisa memaksa Mutiah. Dia bersama Hasan dan Husein kembali pulang, namun besok berjanji untuk datang lagi.

Keesokan harinya, Mutiah menyambut kedatangan Fatimah bersama Hasan dan Husein dengan gembira. Kali ini kehadiran Hasan dan Husein telah mendapat izin dari suaminya. Fatimah pun bersemangat ingin segera 'menyelidiki' ibadah, amalan, dan muamalah apa saja yang dilakukan perempuan pertama masuk surga ini.

Keadaan rumah Mutiah jauh dari yang dibayangkan Fatimah. Rumahnya sangat sederhana, tanpa perabotan mewah. Namun, semuanya tertata rapi dan bersih. Tempat tidur beralaskan seprai putih yang harum. Setiap sudut ruangan tampak segar dan wangi membuat penghuninya senang berlama-lama di rumah. Hasan dan Husein pun merasa betah bermain di kediaman Ummu Mutiah.

Selama berkunjung, Fatimah tidak menemukan sesuatu yang istimewa dilakukan Mutiah. Namun, Ummu Mutiah kelihatan sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu. "Maaf Fatimah, saya tidak bisa duduk tenang menemanimu, karena saya harus menyiapkan makanan untuk suami," ungkap Mutiah yang terlihat sibuk.

Mendekati waktu makan siang semua masakan sudah tersedia. Mutiah menuangkan satu per satu makanan di wadah khusus untuk dikirim ke suaminya yang bekerja di ladang. Yang membuat Fatimah heran, selain makanan, Mutiah membawa bekal sebuah cambuk.

"Apakah suamimu penggembala?" tanya Fatimah. Menurut Mutiah, suaminya bekerja sebagai petani, bukan penggembala.

"Lalu, untuk apa cambuk tersebut?" tanya Fatimah semakin penasaran.

Mutiah menjelaskan, cambuk ini sangat penting fungsinya. Jika suami Mutiah merasa masakan istrinya tidak enak, dia ridha cambuk yang 'bicara'.

Mutiah akan menyerahkan cambuk kepada suaminya untuk dipukulkan ke punggungnya. "Berarti aku tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya," kata Mutiah.

"Apakah itu kehendak suamimu?" tanya Fatimah.

"Ini bukan kehendak suami. Suamiku orang yang penuh kasih sayang. Semua ini kulakukan karena keinginanku sendiri, agar jangan sampai menjadi istri durhaka kepada suami."

Jawaban Mutiah menjadi jawaban atas misteri yang selama ini dicari Fatimah. Masya Allah, demi menyenangkan suami, Mutiah rela dicambuk.

"Aku hanya mencari keridhaan dari suami, karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan suami ridha kepada istrinya," ujar Mutiah.

"Ternyata ini rahasianya," gumam Fatimah.

Mutiah kini balik heran, "Maksudnya rahasia apa, Fatimah?"

Fatimah menjelaskan bahwa Rasulullah mengatakan dirinya (Ummu Mutiah) adalah perempuan yang diperkenankan masuk surga pertama kali.

"Pantas saja kelak Mutiah menjadi perempuan pertama masuk surga. Dia menjaga diri dan sangat tulus berbakti kepada suami," ujar Fatimah dalam hati.

Apa yang dilakukan Mutiah bukan simbol perbudakan suami kepada istrinya. Melainkan cermin ketulusan, dan pengorbanan istri yang patut mendapat balasan surga.
Kerjasama Bilateral Kesehatan Kemkes RI

Hadist Larangan Berbuat dan berbicara jelek

26 April 2013

Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya Allah SWT murka kepada orang yang berperangai jahat dan berlidah kotor."

(HR. At-Tirmidzi)

Kerjasama Bilateral Kesehatan Kemkes RI

Wednesday, 17 April 2013

Manusia dan Masalah

Sesungguhnya ketika Allah mengujimu dengan masalah .....
Maka
Ketahuilah bahwa Allah juga yang selama ini membanjirimu dengan lautan nikmat.. 

Berbaik sangkalah padaNYA.. 
Jika saat ini beban yang di pikul begitu memberatkan punggungmu.. 
Maka berbahagialah..
karena DIA telah percaya punggungmu akan kuat memikulnya.. 
Satu hal yang harus diyakini.. Allah tidak akan pernah memberikan ujian yang tak mampu kita lalui..
Jadi apapun yang kita hadapi saat ini, itu semata karena kita mampu menjalaninya..

Tetap Kuat dan Semangat.. 
Ingatlah dalam bahagia ALLAH menyisipkan duka agar kita tau bahwa ada hikmah dibaliknya
Dalam harap ALLAH menyelipkan resah agar kita sadar untuk mengiringinya 

ALLAH tidak menjanjikan bahwa langit itu tidak selalu biru, bunga tidak selalu mekar dan matahari tidak selalu bersinar..
Tapi ketahuilah bahwa ALLAH selalu memberi pelangi disetiap badai, senyum disetiap kesedihan,berkah disetiap cobaan dan jawaban disetiap Doa..     

Maka tersenyumlah untuk setiap kata yang membawa duka
Tawakallah untuk setiap luka yang diderita
Berdoalah untuk setiap pinta yang diharap
Dan..
Ikhlaslah untuk setiap apa yang diminta...

Tidak ada yang kekal...
Tidak pula...ada yang sempurna...
Kesempurnaan hanyalah milikNYA...


Hilang

 Aku belajar Diam dari banyaknya Bicara. 

Aku belajar Sabar dari sebuah Kemarahan. 

Aku belajar Mengalah dari suatu Keegoisan. 

Aku belajar Menangis dari Kebahagiaan. 

Dan

Aku belajar Tegar dari Kehilangan.  

Monday, 15 April 2013

Fall in Love


Harapan untuk menemukan seseorang yang TEPAT


Mencintai 


Lupakan Masa Lalu >>Mulai Yang BARU


Jatuh Cintalah Pada Orang Yang TEPAT

Kasmaran dalam Gambar








Cilandak Town Square Tempat Tepat untuk Bercengkerama

TIPS

Cilandak Town Square adalah salah satu pusat hiburan di daerah Cilandak, Jakarta Selatan yang didirikan pada pertengahan tahun 2002. Sebagaimana kebanyakan pusat hiburan lain di Jakarta, Cilandak Town Square juga memiliki singkatan namanya sendiri yaitu CITOS.
Tempat ini cocok untuk anda janjian dengan pacar atau pasangan anda. Banyak sudah pasangan yang menjadikannya untuk tempat bertemu dan bercengkrama. Bila tidak maka anda akan menyesal seperti contoh percakapan berikut:

Cewek: "*** nunggu abang aja"
Cowok: "Abang kan di citos dari sore, kirain mau datang"
Cewek: "hadeuh (icon menyesal dan merasa bersalah)" abang..maaaafffffffff
             berhubung gak ada kabar lagi, kirain gak jadi :( ...
Cowok: "lha kan abang bilang dari kemarin mau ke citos, malah abang nyuruh kamu datang kan?
Cewek: ":( .." (ekspresi sedih)....maaafffffff

Padahal di Citos banyak aneka jajanan dan camilan yang bisa dinikmati berdua dan setelah itu anda bisa menikmati kehangatan dan kemesraan di tengah indahnya malam dan gemerlap lampu.
Bangunan CITOS hanya terdiri dari sebuah bangunan utama 2 lantai. Jika masuk dari depan, ke sebelah kiri adalah jalan utama dengan berbagai restoran dan toko yang terletak di samping kanan dan kiri dari kedua lantai CITOS sementara di ujung terdapat Bioskop 21. Sedangkan ke kanan, terletak Matahari Department Store di lantai 2 dan Foodmart serta TimeZone di lantai dasar. Setiap harinya, Citos menyelenggarakan event-event khusus yang disegmentasikan untuk kalangan tertentu seperti woman's day dan lain lain
Jadi...kapan lagi....nikmatilah malam malam anda dengan pasangan di tempat yang tepat.

Saturday, 13 April 2013

Contoh rayuan lelaki sehingga Wanita mulai terayu dan tergoda



pihak lelaki:

I miss you voice and lovely face

pasang dong fotonya....kangen nich

kangen...May i call you

kok ada kangen ya...sama kamu...aneh rasanya


pihak perempuan:

Abang lagi apa

Abang.....XXx mau shalat dulu ya...

hadeuh...(sambil tepuk jidat..senang...)




Wednesday, 3 April 2013

Waktu

Powered by Telkomsel BlackBerry®